Header Ads

RURAL HOUSE: CHAPTER 5 (FINAL)

 

RURAL  

By Andieta Octaria

  ***

Eric membuka matanya perlahan. Kepalanya berdenyut hebat. Ia menatap ke sekelilingnya. Ia mengenali kamar ini. Kamar kecil di bagian belakang rumah tempatnya menemukan Sonia.

Ia pasti pingsan tadi. Namun sudah berapa lama ia pingsan? Apakah sudah berjam-jam?

Ia menatap ke sekeliling. Di sampingnya, Sonia terikat sepertinya. Ia bisa merasakan darahnya mendidih. Sampai ada yang berani menyakiti Sonia, sungguh ia tak akan tinggal diam! Eric mati-matian berusaha melonggarkan ikatan tangannya. Namun hingga tangannya sakit dan pergelangannya melepuh, ikatannya tak kunjung lepas.

“Sepertinya ada yang sudah bangun…”

“LEPASKAN SAYA!”

“Lepaskan? Jangan bercanda. Kita akan mati bersama.”

“Siapa kau?” Eric menatap pemuda di hadapannya lekat-lekat. Pemuda itu membawa sebuah jerigen. Dari baunya yang menyengat, ia tahu apa isi jerigen tersebut.

 

Bensin.

“Aku tidak memiliki urusan denganmu. Urusanku dengan gadis itu.” Handy menunjuk Sonia. Ia menarik kursi, lalu duduk di depan Eric, “Namun karena gadis itu tak kunjung sadar, sepertinya ada baiknya aku menceritakan padamu saja. Toh kalian akan mati sebelum gadis itu sempat membuka mata.”

“Aku Handy. Putra Arina. Ibuku dihukum mati karena keluarga sialan itu. Kau tahu, ibuku membutuhkan uang! Kami membutuhkan uang! Padahal keluarga Rural sudah memiliki cukup kaya! Meskipun rumah yang mereka tinggali kecil, namun keluarga itu mampu membuat masjid dan bahkan sekolah di desa ini! Mereka memiliki begiitu banyak uang hingga bahkan warga masih menghormati keluarga itu dan masih membersihkan rumahnya hingga kini. Namun mengapa mereka tak mau memberikan uangnya pada ibu? MENGAPA!” Handy berteriak histeris. Eric berharap suara teriakan Handy terdengar sampai rumah sebelah. Namun sepertinya mustahil. Jarak antar rumah di tempat ini cukup jauh.

“Andai saja keluarga itu merelakan uangnya, aku masih bisa tinggal bersama ibu. Andai saja…”

“Saya bahkan tidak tahu rasanya memiliki ibu.” Eric memotong perkataan Handy, “Saya besar di panti asuhan. Ibu saya bahkan meletakkan saya di dalam kardus bekas apel saat saya masih bayi dan meletakkan saya di depan pintu panti asuhan.”

Eric menelan ludah berat. Ia tak pernah suka menceritakan masa kecilnya. Karena itu ia menyukai Sonia. Gadis itu tak pernah bertanya macam-macam mengenai kehidupannya, tidak seperti gadis lainnya yang selalu ingin tahu atau berusaha menyembuhkan luka masa lalunya.

Luka itu akan selamanya ada disana, suka atau tidak suka. Ia tak pernah memiliki keluarga, namun selama ia memiliki Sonia, semuanya terasa kembali sempurna.

“Anda pemuda yang beruntung karena memiliki ibu. Anda bahkan mengetahui nama ibu anda, Arina. Nama yang cantik.”

“TIDAK USAH SOK TAHU!”

“Saya tahu. Arina berambut keriting besar-besar, dengan tubuh kurus dan suara berat yang serak,” Eric mati-matian berusaha mengingat perempuan yang ia lihat saat ia pingsan. Perempuan yang menyanyikan lagu yang membuat bulu kuduknya meremang. Perempuan yang berjalan menembusnya. Ibu Handy.

Handy seakan terpukul mendengar perkataan Eric. Mendengar deskripsi mengenai ibunya membuatnya limbung. Ia dipenuhi perasaan rindu.

“Ia wanita yang baik. Ia bahkan mengatakan bahwa anda anak yang baik, dan betapa ia menyayangi anda,” ujar Eric berbohong. Handy menutup matanya dengan kedua telapak tangan. Diam-diam, Eric menggerakkan kedua tangannya, mencoba melonggarkan ikatan tangannya.

“Tapi semuanya sudah terlambat. Kalian harus mati.”

“Tak pernah ada kata terlambat. Ibumu bukan pembunuh. Bila kamu membunuh kami berdua sekarang, berarti kau seorang pembunuh.”

Eric berusaha mengulur waktu. Ia tak tahu pukul berapa saat ini. Namun ia yakin sebentar lagi pagi. Setidaknya, pasti ada orang yang melewati rumah ini di pagi hari, dan mungkin ia bisa selamat.

Tidak, ia harus selamat! Ia sudah berjanji akan menjaga Sonia.

Hendy tersenyum sedih, lalu menatap Sonia. Tanpa berkata-kata, ia membuka tutup jerigen di tangannya. Aroma bensin langsung menyeruak di udara. Eric membeku. Terlambat. Tak ada yang dapat ia lakukan lagi.

Tiba-tiba, dari kejauhan, mereka mendengar suara ketukan di jendela. Eric menarik nafas lega. Akhirnya ada yang menemukan mereka. Namun, ketukan tersebut semakin lama semakin besar, hingga akhirnya suara tersebut memekakan telinga dan membuat rumah seakan bergetar.

Belum selesai rasa terkejut mereka karena suara ketukan, terdengar suara teriakan. Berbagai teriakan saling bercampur. Saling menindih. Teriakan dengan nada tinggi dan rendah, memohon, memelas, merintih. Membuat siapapun yang mendengarnya ngilu. Suara teriakan saat pembunuhan terjadi, belasan tahun yang lalu.

 

“TOLOOOONG!”

“JANGAN! JANGAN SUAMIKU! JANGAAAN!”

“BIARKAN AKU MASUK… AKU MOHON…”

“TIDAK! JANGAN KELUARGAKU! TOLONGLAH! APAPUN ASAL JANGAN KELUARGAKU!”

“LEPASKAN DIA! JANGAN BERANI-BERANI MENYENTUHNYA!”

 

Di tengah suara teriakan, samar-samar terdengar suara langkah mendekat. Sebelum Hendy sempat menyadari apa yang terjadi, badannya menegang, matanya membelalak. Ia lantas berjalan keluar kamar dengan langkah kaku. Eric tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Ia segera melonggarkan ikatan tangannya hingga lepas. Ia lantas menggendong Sonia dan berlari keluar.

Di luar, ia melihat Hendy sedang menyiramkan bensin ke sekujur tubuhnya sendiri. Ada yang menggerakkan tubuh Hendy, entah apa. Atau mungkin tepatnya, entah siapa. Eric bergidik ngeri. Ia langsung berlari masuk kedalam rumah, mencari kunci mobilnya, lalu memasukkan Sonia dengan hati-hati ke kursi penumpang.

“AAAAAAAAAAAAAAAAARGH!!!!!!” suara jeritan memilukan terdengar menggema di tengah keheningan malam. Jeritan Hendy.

Eric buru-buru menyalakan mobilnya, lalu meninggalkan rumah Sonia. Di belakangnya, api menyala dan meretih. Membakar rumah keluarga Rural dan segala kenangan di dalamnya.

Eric menatap jalanan di depannya. Kengerian yang terjadi masih meninggalkan bekas di ingatannya. Matahari mulai terbit perlahan. Ia butuh istirahat. Istirahat yang panjang dan lama. Ia baru menyadari badannya bergetar hebat. Eric meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya baik-baik saja.

Ia menatap ke sebelahnya. Sonia belum juga sadar sejak tadi. Ia sudah melepaskan ikatan di tangan Sonia. Eric mengelus rambut Sonia perlahan, lalu kembali menatap jalan yang legang.

 

Sleep… let sleep tonight… and have a good dream…

don’t let mosquito bite,

don’t let nightmare to come…

sleep…

or I will come to you…

 

Eric membeku, ia menatap Sonia. Di sebelahnya, Sonia menatapnya dengan mata yang terbalik. Liur menetes dari bibirnya, dan urat-urat di lehernya menonjol.

Sonia tertawa. Tawa panjang dan lapar. Sonia dirasuki arwah pembunuh keluarganya. Sebelum Eric sempat berekasi, Sonia merebut setir, membuat mobil terbanting keluar jalur.

 

 

Sleep… let sleep tonight… and have a good dream…

 

don’t let mosquito bite,

 

don’t let nightmare to come…

 

sleep…

 

 

 

or I will come to you…

 

THE END

No comments

Powered by Blogger.