Header Ads

Seseorang Harus Bertobat Ketika Masih Hidup


KEBAJIKAN ( De 德 ) -  Selama kita masih hidup di dunia ini, masih ada kesempatan bertobat untuk menebus kembali kesalahan yang telah kita lakukan.

1. Hanya Orang yang Sudah Meninggal Dunia yang Akan Mengetahui Kebenaran

Seorang pelajar sangat berani. Suatu malam, hujan baru berhenti dan bulan bersinar terang. Ia membawa satu botol arak ke kuburan. Ia melihat sekelilingnya dan berkata, “Alangkah indahnya malam ini! Tetapi saya di sini sendirian. Siapa dari akhirat yang ingin bergabung untuk minum bersama saya?”

Tidak lama kemudian, terlihat beberapa kilauan di tengah-tengah rumput liar. Sekitar belasan hantu datang mengelilingi pelajar ini dari jarak sekitar 10 meter. Pelajar itu berjalan mengelilingi lingkaran tersebut, dan menuangkan arak beras ke tanah dari sebuah mangkuk besar. Hantu-hantu menundukkan kepala mereka untuk mengendus-endus arak itu. Satu hantu kagum dengan kualitas baik arak itu, dan meminta lebih banyak lagi.

Pelajar ini bertanya sambil menuangkan lebih banyak arak, “Kenapa kamu tidak reinkarnasi?” Hantu menjawab, “Orang-orang yang berbuat baik telah reinkarnasi. Orang-orang yang melakukan kejahatan besar terjebak dalam neraka untuk dihukum. Kami tiga belas hantu ini, ada empat yang masih menjalani hukuman atas dosa-dosa mereka dan mereka akan reinkarnasi setelah selesai menjalani hukuman. Sembilan lainnya tidak bisa reinkarnasi lagi karena hutang karma.”

Pelajar itu merasa aneh, “Kenapa kamu tidak bertobat untuk mendapatkan penyelamatan?” 

Hantu menjawab, “Orang harus bertobat ketika ia masih hidup. Orang tidak bisa lagi bertobat ketika ia sudah mati!”

Pelajar membalikkan botol untuk menunjukkan kepada hantu bahwa ia telah menuang habis semua arak. Kelompok hantu itu pergi meninggalkan tempat.

Satu hantu memutar balik kepalanya dan berkata, “Sebagai hantu kelaparan, saya berterima kasih atas arak yang sangat bagus itu. Saya tidak bisa membalas apa-apa kecuali satu nasihat, suatu kebenaran yang orang tidak akan mengetahuinya sampai ia meninggal dunia. Apabila seseorang perlu bertobat, ia harus bertobat ketika masih hidup!”

Diadaptasi dari Catatan Yuewei Caotang

2. Sima Guang Memperbaiki Kelakuannya

Sima Guang, 1019 – 1086, adalah seorang sarjana, sejarawan, dan seorang menteri tingkat tinggi pada zaman Dinasti Song. Ia adalah penulis utama Comprehensive Mirror in Aid of Governance, sebuah karya perintis, referensi dari penulisan sejarah Tiongkok, yang diterbitkan pada tahun 1084 dalam bentuk kronik.

Ia memberitahukan orang lain sebuah cerita masa kanak-kanaknya.

“Sewaktu saya kecil, kakak perempuan saya dan saya mencoba memecahkan kenari yang mempunyai kulit hijau. Kami tidak bisa mengupas kulitnya. Ketika kakak saya pergi, seorang pembantu membantu saya mengupas kulitnya dengan merendamnya di dalam air mendidih. Sewaktu kakak saya kembali, ia ingin tahu siapa yang berhasil membuka kulit kenari. Saya memberitahukannya saya yang mengupasnya. Ayah saya kebetulan mendengarnya. Ia memarahi saya, ‘Bagaimana seorang anak kecil bisa berbohong?’ 
Sejak itu saya tidak berani berbohong lagi. Salam kebajikan (Sumber)

No comments

Powered by Blogger.