Header Ads

Guru honorer, nasibmu kini...

Saya pernah berbincang dengan seorang guru yang katanya sudah mengabdi sekitar 15 tahun, dan statusnya sampai saat ini masih sebagai guru honorer. Saya tanya sama guru tersebut, berapa gaji sekarang? Dia menjawab 600.000. Tapi katanya sekarang dia sudah mendapat tunjangan tambahan dari sertifikasi guru. Dia pun bercerita banyak suka dukanya mengajar selama 15 tahun tersebut, dan seleama itu dia berusaha semaksimal mungkin untuk mencukupi keluarganya dengan penghasilanya tersebut. Potret lain yang saya angga menarik adalah keteguhanya untuk tidak berpaling ke bidang usaha lain yang bisa memberikan penghasilan yang jauh lebih baik ketimbang menjadi guru honorer yang mustahil diangkat menjadi pegawai negeri sipil tersebut. 


Saya anggap mustahil, karena kalau mau diangkat ya dari dulu kali. Masa menjelang usia tidak produktif mau diangkat jadi PN, malah nantinya tidak produktif. 15 tahun bagi saya bukanlah waktu yang singkat, dan dengan waktu selama itu sebenarnya pak guru tersebut bisa berpaling ke bidang usaha lain daripada berlama-lama "menderita" sebagai guru honorer. Tapi tidak demikian, mengajar baginya adalah tuntutan jiwanya, karena sedari kecil sudah bercita-cita menjadi guru. Dan dia bahagia walaupun disisi lain dia harus menguras otak agar uang yang 600 ribu tersebut sebisa mungkin cukup untuk satu bulan menghidupi keluarganya.

Kisah tadi bukanlah satu-satunya kisah, tentu masih banyak ribuan guru yang berstatus honorer yang sudah mengabdi puluhan tahuan dengan upah mungkin lebih kecil dari kisah tadi. Dan tragisnya lama-lama mengabdi toh mereka tidak diangkat-angkat juga jadi PN, sementara tiap tahun selalu ada CPNS yang ujung-ujungnya yang lolos hanyalah sarjana fresh graduate yang belum teruji jam mengajarnya. Padahal apa susahnya ya memberi SK PNS buat mereka yang sudah puluhan tahun mengabdi ketimbang memberikanya kepada sarjana yang baru lulus. Kadang seperti tidak adil, tapi begitulah.........


No comments

Powered by Blogger.