Header Ads

Benda Mahal Dari Binatang Menjijikan

Benda yang berasal dari hewan yang menjadi benda mahal karena susahnya dicari maupun dibuat ini sangat sesuai dengan kata bijak terdahulu bahwa rejeki tidak hanya datang dari bungkusan emas, namun rejeki kadang datang dibalut koran bekas. Sahabat anehdidunia.com kata bijak tersebut mungkin mengena jika kita melihat bahwa suatu barang mahal berasal dari hewan yang kadang kita lihat menjijikan bentuknya, yang tidak kita sangka akan menghasilkan benda mahal. Berikut benda benda mahal yang dihasilkan oleh hewan.

Mutiara


Tahukah anda bahwa sebuah mutiara yang indah sebenarnya berasal dari sebuah pasir yang nyasar masuk ke cangkang Kerang Mutiara? Kehadiran sebutir pasir ke dalam cangkang tentulah bukan sesuatu yang diharapkan karena menimbulkan sakit bagi tubuh Kerang Mutiara yang lembut. Mencoba mengeluarkan pasir tentu bukan persoalan gampang bagi hewan tak bertangan itu. Alhasil, Kerang Mutiara membangun sistem ketahanan tubuh yang unik.

Setiap kali pasir masuk ke dalam cangkang, Kerang Mutiara akan mengeluarkan semacam cairan untuk membungkus pasir tersebut. Cairan tersebut akan membungkus seluruh permukaan pasir lalu mengeras dan berbentuk semacam bola kecil yang kita sebut sebagai mutiara. Pasir yang tadinya keras dan menyakiti tubuh Kerang Mutiara kini telah memiliki permukaan yang halus sehingga tidak lagi menyakitkan bagi Kerang Mutiara. Tidak hanya itu, mutiara yang dihasilkan dari sebutir pasir memiliki nilai keindahan yang sangat tinggi yang membuat Kerang Mutiara menjadi salah satu hewan laut yang memiliki nilai ekonomis tinggi.

Pada prinsipnya, moluska bercangkang berpeluang menghasilkan mutiara secara alami. Namun tidak semua kerang bisa menghasilkan mutiara yang bagus dan memiliki nilai beli yang lumayan.

Kerang penghasil mutiara umumnya berasal dari famili Pteriidae, namun yang umum dikenal hanya jenis-jenis tertentu seperti gold atau silver-lip pearl oyster (kerang mutiara bibir emas atau bibir perak) Pinctada maxima, black-lip pearl oyster (kerang mutiara bibir hitam) Pinctada margaritifera, Akoya pearl oyster (kerang mutiara Akoya) Pinctada fucata dan the winged-pearl oyster (kerang mutiara bersayap) Pteria penguin. Semua anggota famili ini hidup di laut. Sedangkan moluska lain penghasil mutiara yang sejauh ini dikenal berasal dari kelompok abalone dan beberapa gastropoda lain serta beberapa jenis kerang bivalvia air tawar.

Setiap jenis kerang mutiara menghasilkan mutiara dengan spesifikasi yang berbeda. Pinctada maxima menghasilkan mutiara relatif lebih besar dari semua jenis kerang penghasil mutiara, berwarna perak, emas dan krem. Jenis ini banyak dibudidayakan di Indonesia, Birma, Thailand dan Australia. Sedangkan kerang jenis Pinctada margaritifera merupakan primadona negara-negara pasifik selatan. Mutiara yang dihasilkannya bervariasi dari warna krem sampai warna hitam. Warna hitam merupakan warna yang diminati pelanggan mutiara dunia saat ini. Dengan demikian harganya sangat mahal. Diameter mutiara yang dihasilkan umumnya lebih kecil daripada yang diproduksi Pinctada maxima. Sementara Pinctada fucata adalah jenis yang banyak dibudidayakan di Jepang, dan Pteria penguin tidak banyak dibudidayakan karena sejauh ini hasilnya diperuntukkan hanya pada kalangan tertentu mengingat bentuk mutiara yang dihasilkannya umumnya tidak bundar.

Sutera


Sutra atau sutera merupakan serat protein alami yang dapat ditenun menjadi tekstil. Jenis sutra yang paling umum adalah sutra dari kepompong yang dihasilkan larva ulat sutra murbei (Bombyx mori) yang diternak (peternakan ulat itu disebut serikultur). Sutra bertekstur mulus, lembut, namun tidak licin. Rupa berkilauan yang menjadi daya tarik sutra berasal dari struktur seperti prisma segitiga dalam serat tersebut yang membolehkan kain sutra membiaskan cahaya pada berbagai sudut.

"Sutra liar" dihasilkan oleh ulat selain ulat sutra murbei dan dapat pula diolah. Berbagai sutra liar dikenali dan digunakan di Cina, Asia Selatan, dan Eropa sejak zaman silam, namun skala produksinya selalu jauh lebih kecil daripada sutra ternakan. Sutra liar berbeda dari sutra ternakan dari segi warna dan tekstur, dan kepompong liar yang dikumpulkan biasanya sudah dirusak oleh ngengat yang keluar sebelum kepompong tersebut diambil, sehingga benang sutra yang membentuk kepompong itu sudah terputus menjadi pendek. Ulat sutra ternakan dibunuh dengan dicelup ke dalam air mendidih sebelum keluarnya ngengat dewasa, atau dicucuk dengan jarum, sehingga seluruh kepompong dapat diurai menjadi sehelai benang yang tak terputus. Ini membolehkan sutra ditenun menjadi kain yang lebih kuat. Sutra liar biasanya juga lebih sukar dicelup warna daripada sutra ternakan.

Caviar


Caviar merupakan telur dari Ikan strugeon. Strugeon sendiri adalah salah satu hewan yang hampir punah, hal ini lah yang menyebabkan telur ikan ini menjadi komuditas yang langka dan mahal. Cuma orang yang sudah kelebihan duit dan bosan dengan makanan biasa saja yang rela mengeluarkan uang untuk mengkonsumsi makanan ini. Satu porsi caviar bernilai sampai jutaan rupiah dan sebenarnya tidak membuat kenyang perut yang memakannya, Cuma bikin kotor gigi.

Sarang Walet


Jarang sekali seseorang mau membeli liur untuk dijadikan bahan konsumsi, tapi beda halnya dengan liur dari burung yang satu ini. Dengan air liurnya yang kental burung walet membuat sarangnya. Air liur yang kental itu akan mengering saat terkena udara. terdapatl 2 jenis sarang burung walet yakni sarang burung walet yang dipanen di gua-gua di pegunungan dan sarang walet yang terdapat pada bangunan buatan manusia.

Di restoran sarang burung walet biasanya disajikan dalam bentuk sup atau manisan sebagai makanan penutup. Yan Wo begitu namanya dilafalkan dalam bahasa Mandarin, sudah selama berabad-abad dijadikan makanan kaum kelas atas. Kandungan gizinya yang tinggi membuatnya dipercaya memiliki khasiat sebagai aphrodisiac yang di masa tertentu hanya bisa dinikmati oleh kaum bangsawan di Tiongkok Kuno. Banyak sinshe dan ahli pengobatan China tradisional yang mencampurkan sarang burung walet ke dalam tonik penguat. Belakangan sup sarang burung walet dikemas dan diproduksi secara modern sebagai salah satu tonik penambah energi. Sayang harganya sangatlah mahal sehingga walau jaman telah modern dan kaum bangsawan tak lagi memonopoli segala segi di muka bumi ini, sarang burung walet masih tak terjangkau oleh semua orang.

Cordyceps Dong Chong Xia Cao


Cordyceps sinensis ialah sejenis fungus atau cendawan yang hidup subur di kawasan pergunungan melebihi 10,000 kaki dan paras laut di China, Nepal, Tibet dan Himalaya. Dalam sejarah perubatan China, Cordyceps telah digunakan sejak 3-5 ribu tahun lampau sebagai tonik perangsang seks dan kesegaran hayat manusia. Ia juga dikenali sebagai makanan pemanjang hayat dan menjadi herba kegemaran Maharaja dan Maharani China semasa zaman dinasti lagi. Maharaja China ketika itu menggunakan Cordyceps untuk mengembalikan kekuatan badan akibat daripada penyakit yang kronik selain membantu merawat penyakit lemah tenaga batin dan sakit badan.

Nama saintifik Cordyceps berasal dan bahasa Latin bermaksud “cord” dan “ceps” bermaksud “kelab” dan “kepala”; bersesuaian dengan Cordyceps yang membentuk kelab cendawan apabila bahagian kepala tumbuh sebagai unjuran keluar daripada badan larva perumahnya. Bahagian ini dinamakan stroma atau badan berbuah. Nama China iaitu Dong Chao Xia Cao yang membawa maksud “ulat” semasa musim sejuk, fungus semasa musim panas”. Ini adaiah kerana sifat semulajadinya yang mana spora akan ‘menjangkiti’ larva serangga terutama larva kupu-kupu atau rama-rama musim luruh.

Semasa musim sejuk ia melalui tempoh hibridasi dengan mendapatkan nutrient daripada larva yang dihinggapinya. Kemudian apabila tiba musim panas, fungus mula tumbuh dan sepanjang musim panas ia boleh menjangkau ketinggian 3- 5cm. Cordyceps Sinensis merupakan salah satu jenis cendawan yang mahal didalam perubatan Cina samada secara tradisional mahupun moden. Pada tahun 60an, di Tibet, 1kg cordyceps hanya RMB0.30 sahaja, tapi, sekarang telah mencapai RMB100,000 per kg.

Pada “Kitab Obat-obatan Herbal Edisi Baru” tahun 1757 dan “Kumpulan Kitab Obat-obatan Herbal” tahun 1759 dan berbagai kitab kedokteran China, terdapat cacatan rinci tentang cordyceps sinensis ini. Obat ini “rasanya hambar, bersifat hangat”, “dapat mengobati paru-paru dan ginjal”, “berfungsi sama seperti ginseng”, dapat memberi gizi, meningkatkan energi, memberi gizi pada ginjal dan memelihara paru-paru, berkhasiat menghentikan pendarahan dan menghilangkan radang. Sering digunakan untuk mengobati batuk kronis lama, asma, berkeringat banyak, lemah syahwat, dan sebagainya; juga dapat membantu pemulihan dari sakit, dan memberi gizi untuk tubuh lemah yang sering sakit.

Kopi luwak


Asal mula Kopi Luwak terkait erat dengan sejarah pembudidayaan tanaman kopi di Indonesia. Pada awal abad ke-18, Belanda membuka perkebunan tanaman komersial di koloninya di Hindia Belanda terutama di pulau Jawa dan Sumatera. Salah satunya adalah bibit kopi arabika yang didatangkan dari Yaman. Pada era "Tanam Paksa" atau Cultuurstelsel (1830—1870), Belanda melarang pekerja perkebunan pribumi memetik buah kopi untuk konsumsi pribadi, akan tetapi penduduk lokal ingin mencoba minuman kopi yang terkenal itu. Kemudian pekerja perkebunan akhirnya menemukan bahwa ada sejenis musang yang gemar memakan buah kopi, tetapi hanya daging buahnya yang tercerna, kulit ari dan biji kopinya masih utuh dan tidak tercerna. Biji kopi dalam kotoran luwak ini kemudian dipunguti, dicuci, disangrai, ditumbuk, kemudian diseduh dengan air panas, maka terciptalah kopi luwak.[1] Kabar mengenai kenikmatan kopi aromatik ini akhirnya tercium oleh warga Belanda pemilik perkebunan, maka kemudian kopi ini menjadi kegemaran orang kaya Belanda. Karena kelangkaannya serta proses pembuatannya yang tidak lazim, kopi luwak pun adalah kopi yang mahal sejak zaman kolonial.

Luwak, atau lengkapnya musang luwak, senang sekali mencari buah-buahan yang cukup baik dan masak termasuk buah kopi sebagai makanannya. Luwak akan memilih buah kopi yang betul-betul masak sebagai makanannya, dan setelahnya, biji kopi yang dilindungi kulit keras dan tidak tercerna akan keluar bersama kotoran luwak. Biji kopi seperti ini, pada masa lalu sering diburu para petani kopi, karena diyakini berasal dari biji kopi terbaik dan telah difermentasikan secara alami dalam perut luwak. Dan konon, rasa kopi luwak ini memang benar-benar berbeda dan spesial di kalangan para penggemar dan penikmat kopi.

Propolis 

Propolis merupakan liur lebah, terdapat empat jenis produk yang diproduksi oleh lebah, dan semuanya bermanfaat bagi kesehatan manusia. Madu, bee pollen, royal jelly dan propolis. Dari keempat jenis produk hasil lebah tersebut, propolis lah yang menjadi bintang dari semuanya, karena jumlahnya sedikit dan memiliki khasiat paling mantap.
Khasiat propolis propolis antara lain:

Merekatkan dan menambal sarang lebah yang bocor sehingga melindungi sarang dari gangguan luar.
Sebagai disinfektan alami yang digunakan lebah untuk mensterilkan sarangnya, menghentikan pertumbuhan dan perkembangan bakteri, virus, dan jamur.

Didalam propolis terkandung zat besi, vitamin B kompleks, pro vitamin A, vitamin C, vitamin E, asam amino, mineral, dan bermacam bioflavonoid. Bagi manusia, propolis lebah bisa dimanfaatkan untuk memberi perlindungan bagi tubuh, dimana produk ini dapat mengaktifkan kelenjar timus yang berfungsi sebagai sistem imunitas tubuh, menghalangi infeksi virus, jamur, dan parasit lainnya ke dalam tubuh.

Selain itu, fungsi bagi kesehatan kita adalah: bersifat sebagai antiseptik, antibiotik, antijamur, antiradang, dan bermanfaat sebagai detoksifikasi. Penelitian ilmiah membuktikan propolis efektif melawan bakteri patogen seperti Staphylococcus sp. (penyebab infeksi saluran kencing), Clostridium sp. (penyebab gangguan pencernaan), Corynebacterium diphtheriae (penyebab dipteri), Streptococcus sp. (penyebab infeksi tenggorokan dan sinus), Klebsiella pneumonia (penyebab pneumonia dan bronchitis), dan Pseudomonas sp. (penyebab infeksi pada luka).

Bahkan beberapa ilmuan dari amerika menemukan bahwa propolis dapat berguna untuk menghambar pertumbuhan virus HIV. Pada dasarnya manfaat propolis tidak jauh beda dengan produk lebah lainnya seperti madu, bee pollen dan royal jelly, yang membedakan adalah kekuatan efeknya pada tubuh manusia dapat berkali lipat jika dibandingkan dengan produk lebah lainnya.

Guano

Tidak hanya luwak yang dapat menghasilkan kotoran yang bernilai ekonomis tinggi. Jenis kotoran yang satu ini juga sangat digandrungi, yang lebih dikenal dengan istilah guano. Guano (dari Runa Simi 'wanu' melalui bahasa Spanyol) merujuk pada tinja burung laut maupun kelelawar. Bangsa Inka mengumpulkan guano dari pesisir Peru untuk penyubur tanah. Mereka memberikan penghargaan tinggi pada guano, membatasi akses atasnya dan menjatuhkan hukuman pada pihak yang mengganggu produsennya hingga mati.

Pupuk guano merupakan bahan yang efektif untuk penyubur tanah maupun senapan karena kandungan fosfor dan nitrogennya tinggi. Superfosfat yang terbuat dari guano digunakan untuk topdressing. Tanah yang kekurangan zat organik dapat dibuat lebih produktif dengan tambahan pupuk ini. Guano mengandung amonia, asam urat, asam fosfat, asam oksalat, dan asam karbonat, serta garam tanah. Tingginya kandungan nitrat juga menjadikan guano komoditas strategis; Perang di Pasifik antara aliansi Peru-Bolivia dan Chili utamanya berdasarkan pada percobaan Bolivia memungut pajak kepada pengusaha guano dari Chili.

Jenis guano yang ideal ditemukan di daerah yang iklumnya kering, karena hujan akan membilas kandungan nitrogennya. Guano dipanen di sejumlah pulau yang ada di Samudera Pasifik (misalnya Kepulauan Chincha dan Nauru) dan samudera lainnya (misalnya Pulau Juan de Nova). Pulau-pulau tersebut merupakan tempat tinggal bagi koloni burung laut massal selama berabad-abad, dan guano dikumpulkan hingga kedalaman beberapa meter. Pada abad ke-19, Peru terkenal akan pasokan guanonya. Salah seorang penemu utama dalam pertanian guano adalah Benjamin Drake Van Wissen.
Sementara itu di Samudera Hindia tambang guano ditemukan di Pulau Natal. Tambang ini pada awalnya dikelola oleh Inggris dengan mendatangkan pekerja tambang dari Malaysia dan Singapura.
Dari akhir abad ke-19, kepentingan guano menurun dengan bertambahnya pupuk buatan, meskipun guano masih dimanfaatkan oleh tukang kebun dan petani organik. Di sepanjang pesisir Peru, guano terus dipanen selama berabad-abad, dikumpulkan ke pengusaha swasta dan pemerintah.


referensi:http://anitarose-fpk11.web.unair.ac.id/artikel_detail-64323-Eksplorasi%20Laut%20Indonesia-Kilau%20Permata%20Kerang%20Penghasil%20Mutiara.html/http://cordysin2uzaman.blogspot.com/2009_03_03_archive.html/http://terakreditasi.blogspot.com/2011/01/8-benda-berharga-yang-dihasilkan-oleh.html/http://www.merdeka.com/peristiwa/kopi-luwak-kopi-termahal-di-dunia-dari-kotoran-binatang.html

No comments

Powered by Blogger.