Header Ads

Fenomena Gelombang Panas Terburuk Di Dunia

Gelombang Panas adalah periode lanjutan dari cuaca yang sangat panas, yang diikuti oleh kelembaban tinggi. Dampak mengerikan dari serangan gelombang panas alam ini sangat banyak misalnya kebakaran hutan, penyakit akan kesehatan manusia akan menurun yang tentu saja akan banyak kematian. Sahabat anehdidunia.com penyebab terjadinya gelombang panas ini menurut , Martin Tingley seorang ahli iklim di Harvard University adalah akibat blocking event yang terjadi ketika ada konfigurasi tertentu dari aliran jet yang cukup stabil. Hal ini menyebabkan tekanan tinggi besar di bukit Pantai Barat dan tekanan rendah di palung Pantai Timur. Ia tidak menutup kemungkinan adanya pengaruh antropogenik atau perubahan iklim akibat kegiatan manusia yang menyebabkan suhu global terus naik. Berikut kami simpulkan fenomena gelombang panas paling buruk di dunia versi anehdidunia.

Gelombang Panas Jepang
 

Setidaknya dua orang tewas dan ratusan lainnya dibawa ke rumah sakit selama akhir pekan saat gelombang panas melanda Jepang. Seorang wanita 74 tahun pingsan saat bekerja di sebuah rumah kaca di Prefektur Chiba, dan kemudian dinyatakan meninggal. Sedangkan di dekat Ibaraki, seorang wanita 61 tahun ditemukan ambruk di kebunnya dan meninggal. Pada Ahad, seorang pria 76 tahun dibawa ke rumah sakit di Sera, Hiroshima, setelah pingsan di tepi sungai. "Dia diduga menderita heatstroke," kata seorang petugas ambulans melalui telepon. Pejabat itu mengatakan ada laporan yang belum diklarifikasi, yakni bahwa orang itu bekerja di sawah sebelum jatuh.

Lebih dari 190 orang dibawa ke rumah sakit pada Ahad lalu akibat penyakit yang berhubungan dengan hawa panas. Menurut Kyodo News, di 400 kota, suhu berada di atas 35 derajat Celcius. Suhu tertinggi tercatat di Tatebayashi di Prefektur Gunma dan Kota Ibigawa di Gifu, yaitu 36 derajat Celcius. Menurut Badan Meteorologi Jepang, di dua puluh lima lokasi di seluruh negeri, termasuk Kyoto, suhu melambung lebih dari 35 derajat Celcius. Pada Sabtu lebih dari 250 orang dibawa ke rumah sakit akibat penyakit yang berhubungan dengan hawa panas. Gelombang panas terburuk menghantam Jepang pada Agustus tahun lalu. Sebanyak 17 orang tewas saat suhu melonjak hingga 41 derajat Celcius di Ekawasaki di Shimanto, Prefektur Kochi.

Gelombang Panas Di Australia 


Tahun 2014 penduduk Australia yang menghadapi gelombang panas ekstrem mendapat peringatan bahwa situasi masih akan memburuk, dengan ratusan kebakaran melanda beberapa negara bagian dan suhu hampir mencapai rekor tertinggi. Sebagian besar Australia tenggara telah mengalami gelombang panas yang terik yang memicu kebakaran hutan parah di pesisir barat, membakar 55 rumah dan menewaskan satu orang pada Minggu.

Suhu mencapai lebih dari 40 derajat Celsius selama beberapa hari berturut-turut di Australia Selatan dan ada larangan total untuk menyalakan api untuk rekreasi di negara bagian tetangga Victoria, dimana para atlet tenis yang bertanding untuk Australia Terbuka pingsan, muntah dan keram di tengah panas terik. Permainan dihentikan Kamis siang karena panas ekstrem, dan seorang tukang kebun sekolah di Melbourne, berusia 76 tahun, meninggal dunia setelah jatuh ke tanah Rabu.

Para petugas kesehatan di Australia Selatan mengatakan 129 orang dibawa ke rumah sakit dalam tiga hari terakhir karena kelelahan dan dehidrasi akibat panas. Di Victoria, ada 109 kasus dan panggilan ambulan dilaporkan melonjak hampir dua kali lipat dari jumlah panggilan untuk kasus serangan jantung. Kebakaran hutan mengganas di dua negara bagian tersebut. Menurut dinas pemadam kebakaran Australia Selatan, ada 800 kobaran dan "pola api yang meningkat dalam lebih dari 48 jam ke depan."

Gelombang Panas Di India


Meskipun beberapa daerah merasakan panas luar biasa, kamu harus bahagia karena tidak mengalami gelombang panas seperti di India sana. Bayangkan saja, gelombang panas di India tercatat sudah membunuh lebih dari 1.100 orang. Terdengar mengerikan memang, tapi ternyata gelombang panas itu bukan sekali ini terjadi. Pada tahun 2007 silam, lebih dari 100 orang warga di kawasan India Utara menjadi korban gelombang panas yang mencapai suhu 45 derajat celcius itu. Dan Uttar Pradesh menjadi lokasi korban terbanyak. Untuk kali ini, dalam sepekan terakhir kawasan selatan India yakni Telangana dan Andhra Pradesh yang menjadi korban. Dengan suhu paling rendah 47 derajat celcius dan rata-rata mencapai 50 derajat celcius, tentu kamu bisa membayangkan betapa panasnya kondisi India saat ini, seperti dilansir abcactionnews.

Pertanyaan pun muncul, mengapa gelombang panas di India kali ini sangat mematikan? Penyebab pun dituduhkan pada pemanasan global yang makin buruk. Beberapa ilmuwan di India menyimpulkan, "Gelombang panas yang ada meningkat dengan suhu rata-rata 8 derajat dalam 100 tahun terakhir. Pemanasan global yang disebabkan oleh manusia telah mengubah tahun 2014 sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah Bumi," Rupanya tekanan panas yang dialami Bumi memang tengah meningkat dan tak hanya di India. Bahkan efek rumah kaca tercatat meningkat di Amerika Serikat karena polusi udara. Kini beberapa negara lain juga diperingatkan akan gelombang panas.

Gelombang Panas Buruk Di Perancis


Di Perancis, ada 14.802 kematian yang berhubungan dengan panas (terutama di kalangan orang tua) selama terjadinya gelombang panas, menurut data dari Institut Kesehatan Nasional Perancis. Perancis pada umumnya tidak mengalami musim panas yang sangat panas, terutama di daerah utara, namun selama tujuh hari pada bulan Juli-Agustus 2003, Perancis memiliki suhu lebih dari 40 °C (104 °F), yang tercatat di Auxerre, Yonne. Karena musim panas biasanya relatif sedang, kebanyakan orang tidak mengetahui bagaimana cara untuk bereaksi terhadap suhu yang sangat tinggi (misalnya, mengenai rehidrasi), dan sebagian besar rumah warga dan fasilitas perumahan yang dibangun dalam 50 tahun terakhir tidak dilengkapi dengan penyejuk udara. Selain itu, suhu tinggi sangat jarang dianggap sebagai ancaman utama.

Bencana itu terjadi pada bulan Agustus, bulan di mana banyak orang, termasuk menteri pemerintah dan dokter, sedang berlibur. Banyak mayat yang tidak diklaim selama berminggu-minggu karena kerabat mereka sedang berlibur. Sebuah gudang berpendingin di luar Paris digunakan untuk menampung mayat karena mereka tidak memiliki cukup ruang di fasilitas mereka. Pada 3 September 2003, lima puluh tujuh mayat yang masih tidak diklaim di kawasan Paris dikuburkan.

Tingginya angka kematian dapat dijelaskan dengan mengaitkan peristiwa-peristiwa yang tampaknya tidak berhubungan. Pada hari-hari normal, hampir setiap malam di Perancis cuacanya dingin, bahkan di musim panas sekalipun. Akibatnya, rumah-rumah (biasanya rumah batu, beton atau bata) tidak terlalu hangat selama siang hari, dan AC biasanya tidak diperlukan. Selama gelombang panas, suhu mencapai rekor tertinggi bahkan di malam hari, yang mencegah siklus pendinginan yang biasanya terjadi. Warga usia tua yang tinggal sendirian belum pernah menghadapi cuaca panas yang ekstrim seperti ini, dan tidak tahu bagaimana harus bereaksi, atau terlalu dilemahkan oleh cuaca panas sehingga tidak mampu mempertahankan diri. Warga usia tua yang tinggal dengan keluarga mereka atau di panti jompo mungkin bisa mengandalkan bantuan dari orang lain untuk melindungi diri. Hal ini menyebabkan kelompok-kelompok usia yang paling lemah memiliki tingkat kematian lebih tinggi dibandingkan dengan warga yang sehat secara fisik, sebagian besar korban berasal dari kelompok warga usia tua.

Buruknya sistem kesehatan negara sehingga mempengaruhi jumlah korban tewas adalah salah satu masalah yang menjadi kontroversi di Perancis. Pemerintahan Presiden Jacques Chirac dan Perdana Menteri Jean-Pierre Raffarin menyalahkan para keluarga yang meninggalkan orang tua mereka saat mereka berlibur. Selain itu, sistem hari kerja 35 jam, juga dituding mempengaruhi jumlah dokter yang bertugas pada saat itu. Banyak perusahaan-perusahaan yang tutup pada bulan Agustus, sehingga karyawan tidak punya pilihan lain selain pergi berlibur. Dokter keluarga juga memiliki kebiasaan untuk berlibur pada waktu yang sama.

Oposisi dan sebagian besar editorial pers lokal menyalahkan pemerintah atas banyaknya korban. Kebanyakan dari mereka menyalahkan Menteri Kesehatan Jean-François Mattei karena tidak segera kembali dari liburannya di saat ancaman gelombang panas semakin serius, dan para pembantunya juga memblokir tindakan darurat di rumah-rumah sakit umum (seperti panggilan untuk dokter). Seorang kritikus, Dr. Patrick Pelloux, kepala serikat dokter darurat, menyalahkan pemerintahan Raffarin karena mengabaikan peringatan dari para profesional kesehatan. Mattei kehilangan jabatannya dalam perombakan kabinet pada tanggal 31 Maret 2004

Gelombang panas yang terjadi di dunia akhir akhir ini memang sangat mengerikan, karena efek dan akibat yang ditimbulkan sangat besar. Sahabat anehdidunia.com fenomena mengerikan itu terjadi secara tak langsung memang karena perbuatan manusia yang secara serakah menumbangkan pohon pohon yang bertugas menjaga keseimbangan bumi. Mari kita kembalikan kehijauan bumi dengan menanam pohon dan menjaga kebersihan. Semoga dunia kembali tersenyum.


referensi:
http://dunia.tempo.co/read/news/2014/06/02/118581705/Gelombang-Panas-Sapu-Jepang-Dua-Orang-Tewas
http://www.voaindonesia.com/content/gelombang-panas-memburuk-di-australia/1831179.html
http://plus.kapanlagi.com/ternyata-ini-penyebab-gelombang-panas-di-india-jadi-mematikan-d20154.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Gelombang_panas_Eropa_2003

No comments

Powered by Blogger.